GATRA 21 April 2010

Berawal dari small office, Prita Kemal Gani merintis The London School of Public Relations-Jakarta. Bangga menjadi pimpinan bisnis yang didominasi kaum lelaki. Tak lupa dengan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu.

Sosok Prita Kemal Gani begitu dekat dengan The London School of Public Relations-Jakarta. Maklum, perempuan kelahiran Jakarta 23 November 1961, ini adalah pendiri sekaligus pemilik London School—sebutan The London School of Public Relations-Jakarta. Berkat keuletan dan kerja kerasnya selama 18 tahun, ia mampu mengantarkan London School meraih kesuksesan.

Institusi pendidikan yang mencetak lulusan sarjana dibidang Public Relations atau kehumasan, komunikasi, Periklanan, Jurnalistik dan Marketing ini telah menjadi pergurua tinggi papan atas di Indonesia. London school mengantongi akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan tinggi sejak 2002. “Modal saya hanya tiga : kemauan keras, networking yang luas dan ketertarikan yang besar atau passion dalam bidang tersebut” ujar Prita kepada wartawan Gatra Dini Tias Ananda.

Alumnus pendidikan Public Relations di London City College of Management Studies, London, ini merintis London School mulai dari nol. Ketika itu, Prita dibantu dua pegawai dan seorang wartawan sebuah majalah ekomoni, Kemal Effendi Gani yang kini menjadi suaminya. Awal diresmikan  pada 1 Juli 1992, London School menawarkan program kursus singkat dibidang Public Relations. Durasinya selama empat bulan.

Karena modal dananya sangat terbatas, Prita hanya sanggup membuka small office. Ia menyewa ruang kantor berukuran 12 meter persegi di Wisma Metropolitan, jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Ruangan mungil tersebut disulap menjadi ruang kelas yang disesuaikan dengan jumlah peserta kursus, sebanyak 30 orang. “itu pun disewa hanya waktu classroom diadakan, yakni seminggu tiga kali, dari jam 18.00 sampai dengan 21.00 saja” ujar putrid dari pasangan Sudaryono (almarhum) dan Tity Sudaryono ini.

Sejak mulai berdirinya, London School mengadopsi 60% kurikulum pendidikan London. Sisanya 40% menerapkan kurikulum pendidikan nasional. Pengajarnya sebagian besar berasal dari luar negeri. Prita mengatakan, tenaga pengajar asing di London School direkrutnya dari networking yang sudah dibangun ketika bekerja sebagai public relations di Clark and Hatch International, perusahaan yang bergerak dibisnis fitness centre.

Kebetulan, Prita punya kenalan istri-istri para expatriate yang menjadi anggota fitness. Mereka dulunya pernah bekerja dibidang periklanan, marketing, public relations dan wartawan. Bahkan ada kenalannya asal Inggris yang bekas dekan disalah satu universitas terkemuka di London. Namun, karena mereka hanya ikut suaminya yang bekerja di Jakarta, mereka terpaksa menjadi ibu rumah tangga. “dari pada ilmunya tidak terpakai lebih baik saya ajak mengajar” Prita mengungkapkan.

Menurut Prita, bisnis dibidang pendidikan, termasuk perguruan tinggi, masih banyak dikuasai oleh  kaum laki-laki. Ia mencontohkan para petinggi institusi pendidikan, seperti rektor, yang lebih banyak dijabat oleh kaum Adam dari pada kaum Hawa. Demikian pula yayasan yang menaungi institusi pendidikan. Biasanya yang ditunjuk sebagai ketua yayasan adalah lelaki. “Dibutuhkan perempuan-perempuan tangguh dibisnis pendidikan” ucapnya.

Prita mengaku tidak pernah bersaing dengan laki-laki. Ia justru menganggap para Pria sebagai mitra kerja. Lebih berfikir sinergi dan menggunakan kekuatan-kekuatan laki-laki untuk bersama-sama menjalannya usahanya. Prita merasa bahwa dalam meminta saran atau second opinion biasanya lebih enak bila meminta kepada laki-laki. “karena laki-laki biasanya lebih rasional dan kongkrit dalam memberi saran ketimbang perempuan” ujarnya.

Kiat mengelola London School agar tetap bisa bersaing, Prita menerapkan asas kekeluargaan. Ia sangat yakin, diterapkannya asas kekeluargaan akan membuat London School menjadi lebih kuat. Mempunyai rasa memiliki bersama dan loyalitas. “rasa kekeluargaan membuat para dosen di London School bersunggung-sungguh mengajarkan mahasiswa agar menjadi lulusan yang siap pakai dan tidak kalah dengan lulusan dari luar negeri” kata Prita.

Lantas apakah Prita merasa berada dipuncak prestasi? “saya bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang telah saya capai” tuturny. Menurut Prita, pencapaian puncak prestasi yang paling ia banggakan adalah ketika membuat sang ibu kagum dengan hasil kerja keras anaknya “saya telah membuktikan kepada beliau bahwa saya akhirnya bisa jadi seseorang yang bermanfaat” Prita menegaskan dengan sumringah.

Prita juga mersa cukup berhasil sebagai seorang istri da ibu dari anak-anaknya, sesibuk apa pun dia dengan pekerjaan sebagi orang nomor satu di London School, tak membuat Prita lupa tanggung jawabnya sebagi istri dan ibu “saya sangat mengormati suami dan tau diri kapan harus ada dirumah sebagai ibu, dan kapan saya harus pergi mengurusi organisasi usaha pendidikan ini” ungkap ibu dari Ghina Amani Kemal Gani, Raysha Dinar Kemal Gani, dan Fauzan Kanz Kemal Gani itu.